TOBOALI, 86Berita.my.id , — Pawai baris-berbaris dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Bangka Selatan berlangsung dengan penuh haru. Meski hujan mengguyur sejak pagi, para peserta tetap melangkah tegap di Lapangan Merdeka Toboali dan dipanggung Penghormatan yang bertepan Depan Pasar Modern diruas jalan Jend Sudirman Toboali, Senin (18/8/2025).
Pada hari pertama pelaksanaan pawai, peserta berasal dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Dasar (SD). Pemandangan yang mengundang rasa bangga sekaligus haru terlihat ketika anak-anak kecil itu berbaris di tengah lapangan yang becek dan tergenang air.
Dengan seragam yang basah kuyup, wajah pucat karena kedinginan, dan langkah yang sesekali tersendat akibat licinnya tanah, mereka tetap berusaha menyelesaikan barisan. Sorak-sorai penonton yang berteduh di sekitar lapangan seolah menjadi penyemangat bagi anak-anak tersebut.
Bupati Bangka Selatan, Riza Herdavid, mengatakan bahwa hujan deras memang menjadi tantangan tersendiri pada perayaan tahun ini. Namun, menurutnya, kondisi tersebut justru memperlihatkan semangat juang para peserta yang luar biasa.
“Anak-anak ini adalah contoh nyata bahwa semangat kemerdekaan tidak bisa dipadamkan hanya karena cuaca yang kurang bersahabat pagi ini. Mereka tetap berbaris dengan disiplin, bahkan ada yang sambil menahan dingin. Ini sangat mengharukan,” ujarnya.
Pihak Staf Sekolah Dan Guru peserta yang hadir pun turut merasa bangga. Eriyana A,Ma salah satu wali murid dari TK IT Sohibul Quran yang beralamat Di Jalan Aer Benar Kelurahan teladan, mengaku terharu melihat anaknya tetap berbaris meskipun pakaian rada basah karena hujan dipagi hari ini.
“Awalnya saya kasihan, ingin menyuruh dia berhenti. Tapi ternyata dia tetap ingin melanjutkan barisan sampai selesai. Katanya, ini untuk mengenang perjuangan para pahlawan. Saya jadi ikut meneteskan air mata,” ucapnya.
Pawai baris-berbaris ini tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan, tetapi juga wadah untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme sejak dini. Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar tentang kedisiplinan, kebersamaan, serta tanggung jawab.
Hujan deras yang turun seakan memberi pesan simbolis: bahwa kemerdekaan bukanlah sesuatu yang diraih dengan mudah. Ada perjuangan, pengorbanan, dan ketahanan yang harus dibayar mahal.
Sejarah mencatat, para pahlawan bangsa berjuang dalam kondisi serba terbatas, menghadapi cuaca, kelaparan, hingga tekanan penjajah. Kini, generasi muda dihadapkan pada tantangan sederhana: tetap berbaris di tengah hujan deras demi merayakan kemerdekaan.
“Bagi saya, ini adalah pelajaran hidup yang nyata. Bahwa dalam kondisi apa pun, semangat harus tetap menyala,” kata Eriana, guru pendamping salah satu sekolah peserta.
Meski cuaca yang kurang bershabat membuat sebagian orang mengeluh, peristiwa ini justru meninggalkan kesan mendalam. Banyak warga yang menyebut bahwa pawai tahun ini akan dikenang sebagai momen heroik, karena memperlihatkan semangat anak-anak yang tak mudah menyerah.
“Ini pengalaman berharga bagi mereka. Kelak ketika dewasa, mereka akan mengingat bahwa pernah berjuang melawan dingin dan hujan untuk merayakan kemerdekaan. Itu akan menumbuhkan rasa cinta tanah air yang kuat,” tambah Rahmat Hidayat.
Pawai baris-berbaris tingkat PAUD dan SD di Toboali akhirnya berjalan lancar meski cuaca tidak bersahabat. Kegiatan ini akan dilanjutkan dengan peserta dari tingkat SMP, SMA, hingga umum pada hari-hari berikutnya.
Semangat anak-anak di tengah derasnya hujan menjadi bukti bahwa nilai kemerdekaan masih hidup dalam sanubari generasi penerus bangsa.(Dani)


